1. Mahal = Bagus
Biar terkesan mahal, naikkan harganya terus kasih discount.
Pembeli merasa senang mendapat 'barang mahal' dan 'diskon' an.
Konsumen lebih senang membeli Kaos Rp 90.000 dengan disc 50 %, daripada membeli kaos seharga Rp. 45.000 tanpa diskon.
Baik diterapkan untuk toko busana, toko perhiasan, souvenir , cindera mata. Apalagi tokonya di mall, di bandara. Jangan ragu kasih harga mahal + diskon. Pembuatan diskonnya juga ada caranya.
Caranya dengan mengikutkan event- event tertentu :
' Dalam rangka........ ' ,
' Memperingati ..... kami berikan diskon ...'.
Contoh : ' lebaran dah dekat , baju baru, diskon gede'. ' Dalam rangka ulangtahun toko ke 100 kami berikan diskon 100 % *skb ' atau ' Dalam rangka ulang tahun kucing ...'
2. Timbal Balik
Berikan lebih dahulu maka anda akan diberi.
Misalkan anda mempunyai bengkel mobil, Gratiskan ongkos Ganti Olie, maka konsumen akan membeli olienya ditoko anda. Cek angin ban, bila kurang tambah anginnya sebagai free service .
Hal sepele namun memberi kesan lebih bagi konsumen. ' Angkringan Cak Manto, free Wifi '. Ada sebuah bengkel kaki-kaki yang sukses di jogja 'bengkel kaki-kaki Mas Pa'i, garansi 3 bulan (jogja) ' ramai, karena memberikan excellent service yang mampu digaransikan.
Apalagi dalam dunia IT, ada slogan " Gratiskan Daganganmu "Google, Yahoo bersaing untuk menggratiskan search engine, email account, map, Alibaba, Ebay portal retail dan wholesale gratis. Google, Yahoo, Alibaba, Ebay dan portal gratis lainnya dapet makan dari Iklan dan Fee, yang nilainya Milyaran.
3.Ikut-Ikutan Yang Penting Ramai Dahulu
Pernah anda ikut-ikut sekedar ingin tahu ketika ada orang berkerumun menonton sesuatu ?
Ikut-ikutan lihat barang di Mall yang dikerumunin orang ?
Ikut-ikutan memperlambat jalan ngelihat kerumunan orang lagi nonton mobil kecemplung selokan ?
Itulah sifat manusia, ingin tahu saja. Jadi kalau Anda mau launching harus rame. Agar rame harus saat pembukaan harus Aneh, ada Penawaran, Menarik dan Dipercaya.
Anda bisa menggunakan strategi Mie + Teh Botol Rp. 7000, Beli emas dapet Payung seharga 40.000. Cuci Ulang Mobil Gratis, kalau besok hujan. Cuci mobil gratis. Biarkan antrian mobil yang mo gratis nyuci parkir diluar atau badan jalan yg akan jadi biang kemacetan. Maaf pak Polisi, ngajarin macet. Jadinya pengendara yang lain akan bertanya " Ada apa sih kok tumben macet? ... Ooo ada Gratisan Nyuci Mobil/Motor ya, ikutan ah". Gratis 1 Porsi Buat teman ke 4 mu. Beli 3 gratis 1. Keuntungan 3 Porsi makanan > dari harga 1 Porsi.
Nah, kalau rame orang datang, maka orang-orang yang tadinya cuman sekedar lewat jadi penasaran lihat kerumuman ditempat yang baru.
4. Perbandingan
Orang senang yang kecil dahulu.
Marketing, yang penting datang dulu (yang terkecil). Saya mau tanya tolong dijawab dari hati kecil yang paling dalam.
Pedagang Narkoba, coba dulu sedikiiit saja. Kalau sudah suka , akan kecanduan, kalau sudah kecanduan, harga berapapun dibeli.
5. Perbandingan Dan Keterbatasan
Relativitas mahal dulu baru yang Murah. Yang Sulit dulu baru yang gampang.
Dalam menawarkan produk, Tawarkan Yang Susah dahulu Baru yang Gampang.
Pengaturan Display toko atau autlet , display yang bagus dan mahal, barang yang dibelakang murah. Bisa juga ilmu perbandingan ini untuk menyuruh anak dengan memberi pilihan " Mau tidur jam setengah sembilan atau jam sembilan ?" bisa dipastikan milih jam sembilan. Nah kalau sudah jam sembilan, nggak usah diperintah hanya mengingatkan pilihannya sianak akan berangkat tidur sendiri. Dalam hal keterbatasan orang akan bersaing dengan keterbatasan. Rela antri untuk beli Tiket Bola Piala. Indonesia ... Indonesia ... Indonesia. Teknik lelang. Iklan " Dijual mobil Avansa 2010, harga awal 90 jt, tapi 75 jt saya jual " . Saya hanya bisa ditemui jam 17:30 s/d 18.00 di rumah, jl Angkasa 456.
Maka akan banyak orang yang datang. Karena banyak yang datang saya tidak enak untuk memilih salah satu diantara yang datang.
Maka sebagai jalan tengahnya yang berani memberi penawaran yang tertinggi dia pembelinya.
SUMBER
Showing posts with label Marketing. Show all posts
Showing posts with label Marketing. Show all posts
Tuesday, 6 August 2013
Monday, 29 July 2013
Bohong, Gimmick Dan Pemasaran
Pandangan saya di bulan puasa 1434 H tertuju pada tulisan seorang kompasianer melalui tulisan jadulnya yang berjudul : "Rela Bohong Demi Marketing Gimmick" .
Gimmick adalah strategi "bohongan" yang biasa dipergunakan oleh para pemasar untuk mencapai penjualan. Gimmick adalah hal yang lumrah terjadi.
Nah, berikut ulasan singkat dari artikel tersebut. :
Terlepas dari soal hiberbola atau masalah kebohongan, kalo marketing gimmick memang mau diaplikasikan dalam pemasaran sebuah produk, kudu diikuti oleh hal lain. Hal yang dimaksud, misalnya kualitas film yang di-marketing gimmick-kan keren punya. Cerita film itu luar biasa. Nggak cuma mengandalkan materi pemain yang populer. Soalnya, kalo marketing gimmick udah berhasil tapi nggak diikuti oleh kualitas produk tersebut, bakal sia-sia. Kalo nggak film itu pemutarannya gagal alias nggak meraih jumlah penonton yang signifikan, ya nama-nama Pemain film-nya bisa di-blacklist.-
Kembali ke blog saya ya :)
Saya melihat tren gimmick hanyalah sebuah pedang bermata dua. Jika salah sedikit, maka bisa menjadi fatal akibatnya seperti yang diulas oleh penulis kompasiana di atas.
Bulan ramadan 1434 H juga merupakan momen para marketer untuk menjaring lebih banyak konsumen dengan tren konsumtif yang biasa terjadi. Nah, momen inilah konsumen setelah di "gimmick"-an, semakin diperangkap oleh tren. ckckckckckkckckck
Kita sebagai marketer yang memiliki hati nurani, hendaklah kembali kepada perilaku Nabi Muhammad SAW sebagai contoh nyata marketer sejati dengan predikat Al Amin, orang yang dipercaya dalam perniagaannya dan sebagai manusia yang sukses memasarkan religion-Islam-. Beliau sukses menjalankan startegi "Marketing Honest" tanpa embel-embel gimmick tadi.
Membangun brand yang jujur memang sangat berat diawal. Butuh kesabaran, komitmen, pantang menyerah dan semangat inovasi tepat guna.
Gimmick adalah strategi "bohongan" yang biasa dipergunakan oleh para pemasar untuk mencapai penjualan. Gimmick adalah hal yang lumrah terjadi.
Nah, berikut ulasan singkat dari artikel tersebut. :
Semua orang tahu, bohong iti dosa. Di kitab agama manapun menyebutkan, berbohong adalah perbuatan yang dilarang Tuhan. Namun dalam dunia marketing, (mohon maaf!) lupakan kata “dosa”. Kata “dosa” nggak ada dalam kamus marketing, cong! Segala cara dilakukan demi pemasaran produk. Hal ini dikatakan langsung oleh Praktisi marketing sendiri.
Sebenarnya gw bakal dibenci oleh para Marketer (istilah buat menyebut Praktisi marketing), kalo men-judge mereka sebagai kaum Pendosa. Soalnya mereka pasti akan mengelak kalo cara-cara yang mereka tempuh guna mencapai tujuan (baca: pemasaran produk), dianggap dosa. Padahal realita mayoritasnya, jualan mereka memang selalu hiperbola atau berlebihan. But kita tetap harus minta maaf atas tulisan ini.
Dengan berbagai cara, Marketer menjual produk A gokil-gokilan agar laku. Meski kehebatannya cuma sedikit, lewat mulut Marketer, produk A bisa luar biasa. Bahkan produk yang nggak punya kekuatan sekali pun, bisa jadi hebat.
“Ya, namanya juga marketing, bos! Maklumlah!”
“….”
Padahal menurut buku yang gw baca, marketing nggak cuma selling (aktivitas menjual) atau promotion, dan yang lebih sempit lagi marketing is advertising. Marketing bahkan dianggap cuma sebuah aktivitas sirkulasi dan distribusi. Oleh karena pengertian marketing yang salah, maka muncul istilah abuse of marketing atau penyalahgunaan marketing yang salah. Padahal ruang lingkup marketing itu luas. Sayang, yang dijalankan cuma separo-separo, yakni yang konvensional. Nggak heran unsur hiperbola dan melebih-lebihkan menjadi makan sehari-hari marketing.
Produk celana kolor yang sekali pake bisa kendor, bisa dijual dengan cara yang hiperbola. Tentu Marketer nggak akan menjual kehebatan celana kolor yang cepat kendor dong, bro. Hal itu adalah kelemahan. Teori menjual konon adalah mengedepankan kelebihan, meski kelebihannya dikit.
Dalam konteks celana kolor itu apa yang bisa dijual dong?
Ada istilahnya product knowladge. Nah, via product knowladge ini, Marketer jadi punya bahan buat menjual. Misalnya celana kolor itu buatan Amrik. Negaranya Barrack Obama ini bisa kita jual gokil-gokilan. Maklum, orang kaya kita kan masih American-minded. Begitu dengan nama Amrik, langsung klepek-klepek. Padahal belum tentu produk Amrik bagus punya, cong! Belum tentu juga celana kolor itu benar-benar produk asli Amrik. Siapa tahu asli Afrika Selatan?
Kalo dalam product knowladge di celana kolor itu menyebutkan antinyamuk, maka si Marketer akan menjual kehebatan celana kolor antinyamuk-nya itu. Misalnya, kalo udah nggak dipakai, celana kolor ini bermanfaat sebagai kelambu di tempat tidur. Sehingga, orang yang membeli celana kolor ini nggak perlu lagi gatel-gatel gara-gara dikerubutin nyamuk. Tag line celana kolor itu bisa jadi 2 in 1, yakni sekali beli ada dua manfaat sekaligus.
Dalam marketing ada juga aktivitas menggunakan gimmick, makanya lazim disebut marketing gimmick. Binatang apa pula ini? Dalam dunia broadcast, gimmick biasanya adalah sebuah “bumbu-bumbu” biar sebuah program segar, lebih entertaint, dan nggak monoton. Sebuah program talk show pasti bakal nge-BT-in audience-nya kalo nggak ada balutan gimmick. Gw nggak menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi soal gimmick di program televisi, soalnya kali ini kita bicara soal marketing. Ya nggak cong?
Marketing gimmick ini sekarang lagi happening. Maksudnya, aktivitas ini sedang dilakukan oleh banyak Marketer. Elo pikir kasus pencolekan pantat Kiki Fatmala oleh Saipul Jamil ketika mereka main di film Pijat Atas Tekan Bawah itu bukan sebuah rekayasa? Menurut loe kabar Aura Kasih yang sempat dikabarkan pacaran dengan Bams Samsons benar-benar terjadi?
Biasanya marketing gimmick dilakukan dalam dunia musik dan film. Kenapa? Menurut Garin Nugroho dalam sebuah kesempatan di Novotel, Bogor mengatakan, masyarakat Indonesia adalah masyarakat gosip. Bukan masyarakat data. Jadi lebih percaya gosip daripada data atau angka. Yang namanya gosip itu lekat dengan dunia entertainment. Ada juga sih di dunia politik dan ekonomi, namun dunia entertainment lebih berperan besar. Nggak heran kalo program-program infotainment dari dulu sampai sekarang tetap populer, ya nggak?
Lewat program infotainment, marketing gimmick biasa dilakukan. Producer Film atau Musik menggulirkan “kabar bohong” demi pemasaran filmnya. Reporter berlomba-lomba mengungkapkan “kabar bohong” itu pada audience, sehingga audience jadi tahu. Mending kalo yang menggulirkan Producer-nya sendiri, kalo ada Reporter infotainment yang mengajukan diri buat mengabarkan “kabar bohong” (baca: create a rumour) asal dibayar, ini makin gila aja, ya nggak?
“Pembohongan masyarakat namanya!”
Namanya juga masyarakat gosip, ada yang percaya, ada yang nggak. Sebenarnya lebih banyak audience yang nggak percaya. Kok bisa? Para penikmat infotainment nggak bodoh-bodoh amat tahu?! Sayangnya mereka ini aneh. Kenapa aneh? Yaiyalah, udah tahu kabar di infotainment itu bohong atau cuma gosip, eh tetap aja ditonton. Tapi nggak semua kabar diinfotainment hasil rekayasa, lho atau sedang melakukan marketing gimmick.
Kalo Producer atau Marketer yang jago, bisa mengolah marketing gimmick mirip kayak aslinya. Artinya, nggak kelihatan kabar yang sebenarnya bohong itu kayak kabar rekayasa. Itu kalo Producer dan Marketer jago. Tapi kalo tolol, marketing gimmick terlihat rekayasa.
“Bohongnya ketahuan!”
“Apalagi kalo yang mau dibohongi itu Pembohong, wah sebuah marketing gimmick bisa gagal….”
Gara-gara aktivitas marketing gimmick, kabar jadi seringkali dicurigai. Terutama kabar di infotainment, lho. Ada kabar soal soal Selebritis A yang baru main film berseteru dengan Selebritis B, dianggap rekayasa. Ada penyanyi B yang baru mengeluarkan album mengajukan gugatan cerai, dianggap bohong beritanya. Padahal kabar belum tentu bohong semua. Kabar yang beredar belum tentu merupakan bagian dari marketing gimmick.
Apakah perseteruan MUI dengan Sutradara Hanung Bramantyo ketika film Perempuan Berkalung Sorban itu berita berita benar atau berita bohong? Apakah pemberhentian program Perspektif yang dipandu Wiman Witoelar itu rekayasa atau bukan? Ini juga terjadi pada program-nya Tukul. Apakah pencekalan Empat Mata yang kemudian diganti jadi Bukan Empat Mata dan sekarang dicekal lagi adalah bentuk marketing gimmick atau memang benar-benar hasil perintah KPI?
“Cuma stasiun televisi dan Tuhan yang tahu!”
Ada kisah lucu soal marketing gimmick. Sesuatu yang awalnya di set up sebagai sebuah rekayasa bisa berubah jadi kisah nyata. Ini terjadi pada perseteruan Dewi Persik dan Andi Soraya. Mereka sebenarnya diminta Producer film Kutunggu Jandamu cuma membuat kehebohan demi marketing gimmick, demi supaya filmnya laku. Namun ejek-mengejek yang dilancarkan Persik dan Soraya malah berbuntut panjang alias jadi keterusan berantemnya. Dalam kenyataan, dua janda itu benar-benar “perang mulut” dan berantem, cong! Dasar janda!
Kembali ke blog saya ya :)
Saya melihat tren gimmick hanyalah sebuah pedang bermata dua. Jika salah sedikit, maka bisa menjadi fatal akibatnya seperti yang diulas oleh penulis kompasiana di atas.
Bulan ramadan 1434 H juga merupakan momen para marketer untuk menjaring lebih banyak konsumen dengan tren konsumtif yang biasa terjadi. Nah, momen inilah konsumen setelah di "gimmick"-an, semakin diperangkap oleh tren. ckckckckckkckckck
Kita sebagai marketer yang memiliki hati nurani, hendaklah kembali kepada perilaku Nabi Muhammad SAW sebagai contoh nyata marketer sejati dengan predikat Al Amin, orang yang dipercaya dalam perniagaannya dan sebagai manusia yang sukses memasarkan religion-Islam-. Beliau sukses menjalankan startegi "Marketing Honest" tanpa embel-embel gimmick tadi.
Membangun brand yang jujur memang sangat berat diawal. Butuh kesabaran, komitmen, pantang menyerah dan semangat inovasi tepat guna.
Perangkap Pemasaran Bulan Puasa Ramadan
Ramadan 1434 H telah tiba. Yang selalu membuat kita pusing adalah kenaikan harga barang-barang, konsumen semakin konsumtif dan segelintir orang memanfaatkan momen Ramadan untuk mendulang fulus lebih besar.
Ekonomisasi Ramadan
Kecenderungan tersebut ditangkap juga oleh Huffington Post yang baru-baru ini menurunkan artikel mengenai gejala peningkatan belanja Ramadan yang terjadi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan ini (edisi 8 Juli 2013). Jumlah kaum muslim di AS yang meningkat dua kali lipat, kini 2,6 juta jiwa, dalam dua dekade terakhir ini menyebabkan konsumsi produk yang berhubungan dengan kebutuhan kaum muslim meningkat, terlebih di bulan Ramadan.
Peningkatan serupa terjadi juga di banyak negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sejauh ini hal tersebut masih dibantah sebagai upaya ekonomisasi Ramadan oleh sejumlah entrepreneur muslim di Amerika Serikat dan negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya.
Mereka masih menganggap fakta-fakta yang mengarah pada ekonomisasi dari pelaksanaan Ramadan tersebut sebagai anugerah dalam bulan Ramadan. Terlepas dari debat itu, patut dipikirkan dalam-dalam peran marketing dalam mengemas semua kebutuhan Ramadan dan lebaran yang membuat konsumen tergoda untuk berbelanja.
Perangkap Marketing
Perkembangan teknologi informasi yang terbuka lebar dan melintas batas negara, memberikan pengaruhnya dalam berbagai hal. Termasuk di dalamnya dalam pemasaran produk yang berhubungan dengan kebutuhan Ramadan. Produk dikemas apik dengan pendekatan bahasa yang beragam untuk menyasar target yang juga bervariasi.
Bila tak jeli, konsumen akan terbawa dalam “perangkap marketing”. Huffington Post menyebutkan bahwa dari catatan Pan Arab Research Centre tiga tahun lalu, belanja iklan di Mesir melonjak hingga USD142 juta, atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan lain di luar Ramadan pada tahun itu. Paket-paket ziarah ke Tanah Suci pada Ramadan juga banyak dikomunikasikan dan tercatat amat laris.
Padahal, paket Ramadan ini mencapai titik cost tertingginya yang melipatgandakan transaksi yang mengiringinya, mulai biaya transportasi, akomodasi, sampai biaya belanja oleholeh. Walaupun belum dijumpai rilis resmi, secara kasat mata dapat dilihat belanja iklan di Tanah Air juga meningkat pesat selama Ramadan. Iklan produk bernuansa Ramadan bermunculan dalam berbagai media iklan yang ada.
Para pemasang iklan pun merentang lebar jenis bisnisnya, mulai produsen produk konsumsi hingga berbagai yayasan yang mengelola zakat dan sedekah. Semua seakan turun gunung untuk beriklan. Patut diduga bahwa pengalaman beriklan tahun sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap respons pasar atas produk. Akan sangat sayang bila kesempatan untuk merebut pangsa pasar melalui iklan diabaikan begitu saja pada tahun ini dan tahun berikutnya.
Dari sisi konsumen, peningkatan transaksi sejalan dengan peningkatan kebutuhan pada Ramadan dapat dianggap wajar sekaligus tidak. Wajar karena orang merespons Ramadan sebagai sebuah berkah yang disambut gembira. Menjadi tidak wajar dan tidak disarankan karena agama Islam mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam bulan Ramadan.
Selanjutnya, gelombang ekonomisasi ini kelihatannya tidak akan terbendung. Akan terus berjalan seiring dengan semakin terbukanya arus teknologi komunikasi dunia. Bentuk bujukan iklan sebagai upaya pemasaran suatu produk akan terus bermunculan. Diperlukan kebijakan konsumen dalam merespons semua itu.
Dalam konteks Ramadan, konsumen muslim patut mencermatinya dengan seksama sehingga tidak terbawa arus dan menjadi bermegahmegah secara tidak pada tempatnya. Bukankah Islam menghendaki Ramadan sebagai sebuah oase untuk merenungkan makna hidup ini dan bercakapcakap lebih banyak dengan-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan!
SAFRITA AYU HERMAWAN
Praktisi Komunikasi dan Marketing
(Koran SINDO//wdi)
SUMBER
Friday, 7 June 2013
Buat Merk Bisnismu Jadi Trendy Yuk !
Bagi para pemasar dan komunikator, trend mengarahkan purchasing decision (keputusan membeli) pelanggan. Tapi apa yang membuat sebuah merek trendy dan tangguh? Kathy Bloomgarden CEO Ruder Finn memaparkannya dalam sebuah artikel di Forbes berkut ini.
Apple merupakan merek ikonik yang terlihat mampu menumpulkan semua ancaman, mengatur ‘panggung’nya untuk mengakomodasi keinginan besar para konsumennya akan gaya dan tampilan manis sehari-hari. Apple memimpin peringkat nilai merek global dan mempertahankan reputasinya sebagai inovator meskipun muncul produk kompetitif dan serangkaian isu.
Jadi apa passion dan titik pangkal untuk membangun merek sebagai trend dan memungkinkannya menetap di hati masyarakat? Ada beberapa titik kritis yang perlu kita ingat:
Bentuk ikatan emosi mendalam. Untuk memahami apa yang mengarahkan trend pasar massal, pertama kita harus mempertimbangkan konsumen secara individu dan apa yang mempengaruhi mereka. Keputusan pembelian adalah hal yang personal, disetir oleh emosi yang terhubung dengan identitas kita. Misalnya, kita ingin menjadi siapa dan apa yang menurut kita menarik. Merek yang terhubung dengan emosi seperti itu membentuk ikatan yang mendalam dengan konsumen.
Memberdayakan pengaruh sosial. Berdasarkan hasil studi terbaru Crowdrap, 92% konsumen percaya dan dipengaruhi oleh teman, keluarga, dan kolega mereka – daripada berbagai bentuk iklan – ketika membuat keputusan pembelian. Kita percaya kepada mereka yang kita kenal karena teman dan keluarga mengerti nilai kita dan kita percaya dengan saran mereka yang murni dan baik untuk kita.
Kanal relevansi budaya. Relevan dengan dialog kultural dan menapaki berita sosial adalah aspek penting untuk membawa sebuah merek ke permukaan di antara para konsumen. Film Baz Luhrmann “The Great Gatsby” beresonansi dengan masyarakat yang menyukai hiburan, membuat headline, dan menjadi topik pembicaraan di jejaring sosial global.
Menunggangi ketenaran film tersebut, muncul beberapa merek yang meluncurkan fashion terinspirasi tahun 1920 di situs web mereka. Merek-merek tersebut di antaranya Tiffany’s, Bloomingdale dan Rue La La.
Intinya? Komunikasi yang berani dan inisiatif pemasaran yang secara mendalam menyentuh hubungan pribadi, memicu respon masyarakat, dan terhubung ke berita budaya memiliki potensi untuk sukses besar dalam budaya yang fokus pada trend saat ini.
sumber : http://www.marketing.co.id
sumber : http://www.marketing.co.id
Tips Membuat Gambar Sering RE-PIN Di Pinterest
Ingin mendapatkan repin lebih banyak untuk gambar-gambar merek Anda? Curalate memberikan hasil penelitian yang berguna bagi para pemasar merek di Pinterest.
Berdasarkan analisis visual dan platform pemasaran Curalate, gambar merek di Pinterest 23% cenderung di-repin jika gambar tersebut bukanlah gambar yang mengandung unsur wajah.
Menggunakan algoritma yang disesuaikan untuk mengevaluasi lebih dari 500.000 gambar-gambar Pinterest, Curalate meneliti bagaimana sebuah karakteristik visual gambar mempengaruhi aktivitas media sosial.
Studi ini mengkaji 30 karakter visual gambar yang berbeda termasuk warna, tekstur, pencahayaan, dan kejenuhan. Hasilnya, gambar yang kaya warna lebih disukai. Sedangkan gambar yang mengandung warna merah, oranye, dan coklat dua kali lebih banyak di-repin daripada biru.
Gambar dengan pencahayaan medium 20 kali lebih mungkin di-repin daripada gambar gelap, dan 8 kali lebih mungkin di-repin daripada gambar sangat terang.
Studi juga mengonfirmasi bahwa gambar merek yang kurang mengandung unsur wajah mendapatkan pin lebih banyak. Hasil tersebut juga mencatat bahwa Pinterest memiliki 4,25 kali gambar tanpa wajah daripada gambar dengan wajah.
Gambar lain yang lebih banyak di-repin adalah gambar dengan gaya vertikal “portrait” dengan rasio aspek 2,3 hingga 4,5 daripada gambar dengan bentuk panjang dan lebar. Gambar dengan beberapa warna dominan lebih banyak di-repin 3,25 kali dibanding dengan gambar dengan satu warna.
Dan gambar dengan tingkat kejenuhan 50% di-repin empat kali lebih banyak dibanding gambar dengan tingkat kejenuhan 100%, dan 10 kali lebih banyak dibanding dengan gambar yang sangat jenuh.
sumber : http://www.marketing.co.id
Lejitkan Penjualan Via Social Media
Social Media adalah Channel baru dalam dunia marketing, di era baru ini Social media sudah menjadi senjata membangun Brand oleh Marketer untuk para Netizen khususnya di Indonesia. dengan jumlah pengakses Internet sebanyak 50 juta hal ini menjadi lahan promosi yang sangat menarik.
Banyak Brand yang masuk ke ranah Social Media tetapi belum secara maksimal memanfaatkan Channel ini, banyak terlihat brand yang masuk ke ranah Social media sekedar pelengkap program marketing saja atau bahkan karena coba-coba. mungkin hanya beberapa brand di Indonesia yang sudah sangat tepat dalam melakukan campaign di ranah Social Media. mereka sangat fokus membangun brand di social media dengan spend budget yang besar untuk meraih konsumen di channel ini.
Maka ini adalah sebuah tantangan buat para brand khususnya marketer. Social media yang dinamis dan horizontal membuat pola marketing berubah. konsumen sudah dapat memilih brand yang baik untuk mereka. Konsumen juga sudah dapat memberikan komentar terhadap brand secara spontan dan dapat dilihat oleh khalayak. jadi hal yang sangat penting untuk Brand terjun ke channel social media dengan selalu update pasar, kreatif dan lebih manusiawi. dan point penting lagi dapat memenuhi keinginan konsumen dengan tepat.
Nah Tantangan sekarang adalah bagaimana meningkatkan sales di Social Media. karena sifat Social Media adalah conversation secara horisontal maka agak sedikit sulit untuk dapat terlihat langsung bahwa program dan activation di ranah Social Media memberikan impact kepada sales sebuah brand.
Berikut ini cara jitu yang akan saya jabarkan di beberapa point antara lain sebagai berikut:
1. Social Media Meningkatkan Sales SECARA TIDAK LANGSUNG
Social Media Meningkatkan sales secara tidak langsung adalah sesuatu kegiatan sebuah brand di social media tetapi hanya meningkatkan Brand awareness sebuah produk dan membangun percakapan positif tentang brand di social media sehingga point-point diatas dapat meningkatkan penjualan yang dilakukan di toko-toko atau showroom brand tersebut. adapun cara untuk meningkatkan sales secara tidak langsung adalah sebagai berikut:
1. Membuat activation di social media yang bertujuan untuk membangun brand awareness brand tersebut di social media. hal ini sudah terbukti dengan adanya brand minuman yang setelah melakukan activation di online sehingga penjualan produknya naik secara signifikan.
2. Menciptakan WOMM di social media yang bertujuan agar brand kita diperbincangkan oleh konsumen, diharapkan dengan perbincangan yang positif di social media maka diharapkan konsumen dapat melakukan pembelian produk di toko karena impact dari WOMM adalah rekomendasi. karena beberapa data menyebutkan bahwa yang mempengaruhi pembelian terbesar adalah “rekomendasi teman” dan brand yang sukses dengan strategi ini adalah produk ice cream. sehingga penjualan meningkat pesat dari target yang di tentukan.
3. Menciptakan informasi produk yang lengkap dan menarik di social media. hal ini bertujuan dengan informasi lengkap dan menarik dapat menarik konsumen membeli produk yang di pamerkan. karena informasi yang lengkap dan menarik dapat menjadikan “Brand Switching” dengan terjadinya Brand switching maka secara tidak langsung konsumen yang akan membeli produk pesaing akan membeli produk kita karena merasa puas dengan informasi produk yang lengkap dan menarik
2. Meningkatkan sales di Social Media SECARA LANGSUNG
Meningkatkan sales di social media secara langsung adalah bagaimana kita membuat program di social media yang bertujuan meningkatkan sales secara nyata. dan akan terlihat dapaknya langsung dari program yang kita jalankan. adapun cara untuk meningkatkan sales secara langsung adalah sebagai berikut:
1. Program Shocking Deal: Program ini adalah sebuah program yang dilakukan di media online dengan membuat program discount kepada konsumen di online tetapi dalam jangka pendek sehingga akan membuat penasaran konsumen. Key Performace Indikatornya adalah demand konsumen untuk meng order produk di program online ini. hal ini jelas akan meningkatkan sales secara langsung.
2. Membuat Toko Online: Jelas aktifitas ini meningkatkan Sales secara online karena konsumen dapat langsung melihat produk dan langsung memesan produk yang diinginkan. Syarat brand untuk membuat toko online ini harus dibangun dengan system yang detail dan mudah sehingga layanan kepada konsumen akan tetap terjaga. karena apabila system yang belum kuat akan menjadi bumerang terhadap brand itu sendiri.
3. Program Member Card online: ini adalah program yang dibuat untuk meningkatkan sales secara langsung melalui layanan Member card, konsumen yang membeli produk dengan menggunakan member card online dapat reward yang lebih dibanding dengan konsumen yang membeli secara langsung di toko retail. hal ini juga akan meningkatkan sales secara langsung. dalam program ini yang harus diperhatikan adalah kemudahan dalam memberlakukan system ini kepada konsumen.apabila program ini dapat berjalan baik makan program member card online ini dapat dilakukan dalam jangka panjang.
Demikian beberapa cara jitu meningkatkan sales di Social Media. Hal ini akan berjalan dengan baik apabila di handle secara serius oleh pihak yang berkepentingan. Persiapkan team yang benar-benar expert di bidang digital marketing sehingga program dapat berjalan dengan maximal dan dapat memberikan impact sales yang positif.
sumber : http://www.marketers.marketing.co.id
Subscribe to:
Posts (Atom)

