Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, 13 August 2013

Maling Jasa Pengiriman Itu Bernama FEDEX INDONESIA

Sebagai pengguna jasa pengiriman, kita banyak mendapat berita pahit tentang buruknya jasa pengiriman yang dilakukan oleh perusahaan pengiriman barang yang kita percayakan. Lagi-lagi, kita mendapat pengalaman dari seorang blogger bagaimana buruknya pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan pengiriman barang (walaupun katanya perusahaan kaliber dunia) yang bernama FEDEX Indonesia.

Pengalaman blogger tersebut asli saya copy dari blog beliau. Harapannya, sebagai konsumen ataupun yang akan menjadi calon konsumen menjadi bahan PELAJARAN untuk memilih jasa pengiriman yang layak agar tidak menjadi kerugian ke depannya.

Check this out !


  1. Membuat persetujuan menaikkan nilai barang delapan kali lipat tanpa memberikan konfirmasi kepada costumer, sehingga nilai tebus yang harus dibayar berjumlah enam kali lipat lebih dari yang seharusnya. Saya diwajibkan membayar Rp3.755.504 untuk menebus barang seharga Rp1.200.000.
  2. Costumer service yang sangat buruk dan sama sekali tidak ada usaha menindaklanjuti komplain costumer.
  3. Membiarkan costumer menunggu hingga lebih dari satu jam tanpa diberikan pelayanan apa pun, bahkan hingga lima jam rapat tamu tidak disuguhi air putih.
  4. Atasan yang tidak mau menemui costumer dengan alasan sedang keluar mencari makan dari siang berjam-jam dan tidak kembali ke kantor hingga sore.
  5. Tidak dapat memberikan data-data yang costumer inginkan sebagai transparansi dengan alasan yang tidak jelas.

lima alasan di atas cukup membuat saya sangat kecewa dengan jasa FEDEX Indonesia. Lebih detailnya, silahkan baca kronologi masalah di bawah ini.

______________________________________________________________________________


Suatu hari saya ingin membeli asesoris kamera yang tidak dijual di Indonesia. Barang tersebut produksi Korea Selatan. Karena saya tidak memiliki kartu kredit untuk melakukan pembelian, jadi saya meminta tolong rekan saya bernama Arie yang memiliki kartu kredit, kebetulan ia tinggal di Jepang.
Arie melakukan pembelian asesoris kamera tersebut secara resmi dari produsennya. Barang dikirim menggunakan FEDEX dari Korea Selatan ke Jepang, beberapa hari kemudian, FEDEX Jepang menelepon Arie untuk janjian ketemuan, barang tersebut selamat sampai di tangan Arie dalam waktu singkat tanpa ada masalah. Pelayanan FEDEX Jepang sangat memuaskan.
Barang tersebut dikirim kembali dari Jepang ke Indonesia juga menggunakan jasa FEDEX. FEDEX Jepang menyamakan nilai barang seperti yang dituliskan dari KONOVA, yaitu $120 atau setara Rp1.200.000. Karena packingnya yang cukup besar sehingga Arie dikenakan biaya pengiriman sebesar 23.428 Yen atau setara Rp2.342.800.
Pada 2 Agustus 2013, saya menelepon FEDEX menanyakan perihal barang saya. FEDEX mengatakan bahwa barang saya sudah sampai di Indonesia dan sedang diproses di Bea Cukai. FEDEX mengatakan akan menghubungi saya kembali untuk melengkapi dokumen (terkait harga dan sebagainya).
Pada 6 Agustus 2013, saya menerima telepon dari FEDEX yang menyatakan bahwa barang saya sudah ada di Pos FEDEX Pondok Pinang, dan saya wajib menebusnya dengan harga Rp3.755.000, harga yang sangat jauh di atas nominal. Saya sangat kaget mendengar nilai yang perlu ditebus itu.
Saya langsung menelpon costumer service FEDEX, saat itu saya berbicara dengan Mbak Virgin, saya menanyakan tentang harga tebusan yang tidak masuk diakal ini. Mbak Virgin kemudian mengirimkan email detail tagihan (hitung-hitungan) dari FEDEX RPX.
Dalam detail tagihan tersebut, harga barang $120 disulap menjadi $980 (dinaikkan delapan kali lipat) tanpa mendasar.
Invoice Resmi dari Korea
Nilai Pajak yang Harus Saya Tanggung
Setelah saya mencari tahu cara perhitungan bea masuk dari situs blog http://catatankecik.blogspot.com/2012/07/kalkulator-bea-masuk-dan-pajak-impor.html, memang kenaikkan nilai barang itu berdampak pada semuanya. Menurut perhitungan, seharusnya saya diwajibkan membayar pajak Rp506.000 saja, namun karena kenaikan harga, saya jadi harus membayar pajak Rp3.267.000 atau enam kali lipat lebih.

Hitung Bea Masuk dan Pajak Impor sebelum nilai barang dinaikkan.
Hitung Bea Masuk dan Pajak Impor setelah nilai barang dinaikkan
Selain itu, saya sampai sekarang masih tidak paham dengan pungutan baru dari FEDEX, logikanya saya sudah membayar mahal jasa FEDEX Jepang ke Indonesia memang untuk hal tersebut, kenapa harus ada pungutan baru lagi? handling charge? admin charge? bank charge? warehouse fee? dan lain-lain hingga berjumlah Rp488.504. Hal itu amat disayangkan karena tidak dapat dijelaskan oleh FEDEX. Mereka berkutat dengan kalimat, "itu adalah prosedur kami". Dan perlu diketahui bahwa FEDEX Jepang tidak memberlakukan pungutan seperti FEDEX Indonesia.

Ditambahan pungutan siluman dari FEDEX senilai Rp488.504
Saya menghubungi FEDEX dan berbicara dengan Mbak Virgin kembali, saya mengeluhkan soal kenaikan nilai barang secara sepihak ini. Kemudian Mbak Virgin menyuruh saya menghubungi pihak Bea Cukai langsung di Soekarno Hatta.

Karena saya tinggal di Bandung, dan Soekarno Hatta bukan lah jarak yang dekat untuk ditempuh, akhirnya saya menelepon Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Tipe Madya Pabean Soekarno-Hatta di 0215501309. Saya berbicara dengan operatornya (saya lupa dengan nama operator tersebut) dan menanyakan perihal ini.

Diskusi panjang lebar ditelepon terjadi, saya bisa menjelaskan ke Bea Cukai bahwa kalau pun barang saya dinilai under value, harga yang mereka tetapkan sangat lah berlebihan, apapun alasannya, karena harga di internet pun hanya $325. Jadi saya tidak paham dari mana angka tersebut ditetapkan. Tapi intinya pihak Bea Cukai tidak menerima keluhan, karena nilai barang tersebut sudah disepakati oleh FEDEX yang seharusnya juga berarti disepakati oleh saya sebagai pemilik barang. Beliau mengatakan, "jika anda ingin mengeluh, silahkan keluhkan hal ini ke FEDEX karena FEDEX tidak mengkonfirmasi anda dan menyepakati semuanya tanpa sepengetahuan anda". Mendengar penjelasan itu saya langsung ingat bahwa FEDEX pernah mengatakan akan menelepon saya untuk melengkapi dokumen Bea Cukai, namun hal itu ternyata dilewati oleh FEDEX sehingga saya tidak diberikan ruang negosiasi atau pun memberikan data-data yang saya punya. FEDEX dalam hal ini telah melangkahi saya dengan membuat persetujuan kenaikan harga barang delapan kali lipat dengan Bea Cukai. Saya amat menyesalkan hal ini.

Saya kembali menghubungi FEDEX, saat itu operator yang mengangkat bukan Mbak Virgin dan saya meminta dihubungkan kembali dengan Mbak Virgin karena saya tidak mau menjelaskan semuanya dari awal lagi. Saya gagal disambungkan dengan Mbak Virgin karena beliau tidak mengangkat teleponnya, akhirnya saya harus menjelaskan semuanya dari awal lagi, operator baru menanyakan nomor AWB kembali kepada saya, dan saya harus menunggu lebih dari 2 menit untuk mereka melakukan pengecekan nomor AWB tersebut dan hingga pulsa saya habis. Hal ini terjadi berulang-ulang dimana saya harus menjelaskan semua dari awal karena operator yang berganti-ganti dan pihak FEDEX tidak ada inisiatif sedikit pun melakukan follow up keluhan costumernya.

Saya kemudian berbicara dengan Mas Hakim mengeluhkan soal kenaikan harga tersebut, nada saya sudah semakin tinggi karena emosi. Saya meminta dokumen resmi dari Bea Cukai tentang kenaikan harga ini, saya tidak mau surat tagihan dari FEDEX saja, saya ingin semuanya transparan. Mas Hakim mengatakan akan memberikannya kepada saya. Namun dalam waktu 24 jam tidak ada kabar apapun dari FEDEX mengenai permintaan saya.

Interior Kantor FEDEX
Pada 7 Agustus 2013, saya ke Jakarta dan mendatangi langsung kantor pusat FEDEX di Pondok Pinang karena saya merasa keluhan melalui telepon tidak mendapatkan respon yang baik dan hanya membuang-buang pulsa.

Pertama, saya datang bersama kakak perempuan saya, Prista. Saya memberikan nomor AWB, kemudian barang dikeluarkan dari gudang dan diletakkan tepat di depan mata saya. Saya dimintakan KTP, saya berikan, kemudian mereka fotokopi KTP saya. Mereka menyodorkan semacam alat elektronik dan menyuruh saya tanda tangan. (dengan bodohnya) saya tanda tangan. Kemudian Prista menanyakan bagaimana kelanjutan masalah kami dengan FEDEX, "kami tidak setuju dengan angka yang dibebankan oleh FEDEX kepada kami? bisa kami bicara dengan yang berwenang?".

Akhirnya saya berbicara dengan Mas Bowo menjelaskan krologi masalah sedetail-detailnya dengan bukti invoice, data internet, kalkulasi pajak dan lain-lain. Mas Bowo memahami penjelasan saya dan mengakui bahwa FEDEX telah melakukan kelalaian dengan tidak menkonfirmasi kenaikan harga ke saya sebagai pemilik barang. Saya meminta ada keringanan untuk hal ini, karena apapun alasannya ini adalah kesalahan FEDEX yang sangat merugikan costumer. Mas Bowo meng-iya-kan dan akan berbicara ke atasan/manajemen untuk keluhan ini. Saya dan Prista pun meninggalkan kantor FEDEX itu.

Sesampainya di rumah (Jagakarsa). Tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Arie yang mengatakan bahwa tracking FEDEX di internet menyatakan bahwa barang sudah diterima oleh saya (karena tadi saya menandatangani). Saya panik, menghubungi Mas Bowo via telepon, beliau mengatakan data akan dirubah. Saya tunggu, data tersebut tidak berubah-berubah. Terpaksa saya kembali ke kantor FEDEX.

Sampai disana, saya menghubungi Mas Bowo berkali-kali via telepon dan SMS namun tidak ditanggapi.


SMS Saya ke Mas Bowo
Mereka terus mengatakan bahwa data sudah dirubah, namun di website tidak ada perubahan. "mungkin kalau di website berubahnya sedikit lama", kata salah satu dari mereka. Mereka pun menunjukan data yang mengatakan bahwa hal tersebut sudah di cancel melalui layar komputernya.


Bukti cancel
Saya sedikit bisa lebih tenang. Mas Bowo muncul sekitar setengah jam kemudian. Saya kembali mengingatkan FEDEX bahwa saya meminta dokumen resmi/asli terkait Bea Cukai. Setelah melewati perbincangan yang alot, akhirnya saya pulang dengan tangan kosong dan tanpa kejelasan,

Saya terpaksa harus menunggu 5 hari karena terpotong libur Idul Fitri.

Pada 12 Agustus 2013, saya kembali ke FEDEX pada pukul 11.00 WIB. Karena Mas Bowo sedang tidak bertugas, saya pun dipertemukan dengan Mas Rais. Saya dipersilahkan duduk di dalam sebuah ruangan kecil (yang mungkin memang disediakan untuk tamu). Saya menanyakan tindak lanjut masalah ini.

Muhammad Rais, Specialist
Mas Rais mengatakan FEDEX akan bertanggung jawab dengan menghilangkan handling charge senilai Rp250.000. Saya tidak terima karena angka tersebut sangat kecil dibanding nilai kerugian yang saya dapat akibat ulah FEDEX.

"Begini Mas Febian, prosedur internal kami adalah tidak perlu melakukan konfirmasi ke costumer jika pajak masih di bawah Rp3.500.000".

"loh, kenapa bisa begitu mas?"

"agar prosesnya cepat"

(dengan pernyataan tersebut justru timbul kecurigaan saya, kenapa angka tersebut tampak dibuat mendekati Rp3.500.000 namun tetap dibawahnya (Rp3.267.000). "Apa ada 'main-main' FEDEX dengan Bea Cukai? karena angkanya terlalu dibuat-buat". Namun saya nyatakan: itu hanya prasangka buruk dari saya sebagai costumer yang dirugikan.

"tapi yang saya permasalahkan bukan angka di bawah Rp3.500.000 itu mas, yang menjadi masalah adalah kenaikan nilai barang yang berkali-kali lipat dari pajak yang harusnya terbebani ke saya. Fedex telah melangkahi saya sebagai pemilik barang dengan tidak melakukan konfirmasi dan berujung saya rugi Rp2.760.000. Harusnya jika pun barang ini tidak kalian tebus, saya bisa mengurusnya sendiri ke bea cukai dan tentu tidak akan keluar angka sedemikian besar"

"tapi itu keputusan dari Bea Cukai Mas"

Saya berada di posisi yang membingungkan, ketika saya mengeluh ke Bea Cukai, mereka tidak menerima keluhan saya dan menyuruh saya mengeluh ke FEDEX. Ketiga saya berbicara dengan FEDEX, mereka terus berlindung dengan nama Bea Cukai. Di mana posisi saya sebagai yang punya barang.

"saya paham hal itu Mas Rais, Bea Cukai memang punya hak merevisi nilai barang, silahkan selama itu masih rasional, tetapi saya sebagai warga negara juga punya hak diberikan ruang negosiasi, apalagi dengan kenaikan harga yang delapan kali lipat ini, harusnya anda sebagai perusahaan profesional tidak melangkahi saya"

Diskusi saya dengan Mas Rais sangat alot, Mas Rais berbicara kalimat yang diulang-ulang, tidak berbeda dengan diskusi saya lima hari lalu dengan Mas Bowo.

Karena masalah ini sudah sangat menguras waktu dan pikiran, akhirnya saya mencoba rela membayar nilai tebusan tersebut dengan dua syarat. 1) surat resmi dari FEDEX yang menyatakan bahwa FEDEX bersalah 2) dokumen resmi dari bea cukai yang sudah saya minta kan sejak seminggu lalu.

Ruang Rapat
Mas Rais meninggalkan saya di ruangan tersebut untuk berbicara dengan atasan dan membuat surat yang saya minta. Saya melihat jam di HP saya, saya mencatat pertama kali Mas Rais meninggalkan saya pukul 11.48 WIB. Saya terus melihat jam, hingga jam 13.00 Mas Rais belum juga selesai, jadi saya sebagai costumer yang complain dibiarkan menunggu lebih dari satu jam tanpa konfirmasi dan tanpa disuguhi air putih. Akhirnya jam 13.15 Mas Rais kembali. Emosi saya sudah sangat meningkat karena diperlakukan seperti itu oleh FEDEX.

"Perusahaan anda sangat tidak profesional Mas Rais, costumer anda dibiarkan menunggu lebih dari satu jam tanpa konfirmasi, bahkan anda atau siapa pun disini tidak menyuguhi costumer anda air minum"

"Maaf mas, mas mau minum?"

saya tidak menjawab tawaran tersebut. Karena hal itu memang seharusnya inisiatif terhadap tamu, siapa pun tamu itu.

Mas Rais tidak bisa memberikan kepada saya bukti dari Bea Cukai dengan alasan hal tersebut harus dibicarakan dengan orang clearance. Saya sudah lelah menagih bukti Bea Cukai. Kemudian Mas Rais menunjukan surat yang telat dibuat. Saya dengan tegas mengatakan surat tersebut tidak sah, karena tidak menunjukan kesalahan apa pun dari pihak FEDEX, melainkan hanya pembelaan dengan mengatakan angka di bawah Rp3.500.000 tidak perlu konfirmasi.

Saya menyuruhnya revisi, karena dalam surat tersebut juga terdapat kesalahan nama, dari Arie Naftali menjadi Arce Haffali dan Nurrahman menjadi Nurranman. Saya khawatir surat tersebut menjadi tidak valid jika dibutuhkan nanti. Mas Rais meninggalkan saya untuk revisi hingga setengah jam.

"Baik Mas Rais, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan menanggung kerugian ini, tetapi saya hanya ingin menebus sebesar Rp2.000.000, artinya mohon FEDEX memberikan kami keringanan Rp1.267.000, karena bagaimana pun ini adalah kesalahan perusahaan anda"

"tidak bisa Mas Febian, dari manajemen kami hanya memberikan keringanan Rp250.000 di handling fee, itu sudah besar"

"Bagaimana bisa, saya dibebani angka Rp2.760.000. Pertanggung jawaban dari perusahaan sebesar FEDEX hanya senilai Rp250.000, dan costumer anda tetap terbebani harga Rp2.260.000?". Benar-benar tidak rasional, demi uang perusahaan ini rela mempertaruhkan nama baiknya di depan costumer.


Surat pernyataan kesalahan FEDEX Indonesia dan hanya menanggung Rp250.000
"kalau begitu saya ingin berbicara ke atasan anda, karena kalau saya berbicara dengan Mas Rais tidak akan ada jalan keluar karena anda bukan pembuat keputusan, ini jalan buntu bagi saya dan Mas Rais."

"tidak bisa Mas Febian, saya di sini yang sedang on duty"

Saya terus menekan Mas Rais untuk mempertemukan saya dengan atasannya. Karena setiap saya mengajukan suatu pertanyaan atau pun pernyataan, Mas Rais selalu meninggalkan saya di ruang rapat dengan alasan ingin meminta konfirmasi dari atasan dan hal itu benar-benar menguras waktu saya. Sekali lagi, Mas Rais kembali meninggalkan saya untuk memanggil atasannya. Saya menunggu lebih dari setengah jam untuk kesekian kali nya masih tanpa disuguhi apa pun.

Mas Rais kembali dengan mengatakan atasan sedang keluar mencari makan. Pembicaraan kembali alot hingga jam 16.00 WIB, ternyata saya berada di kantor FEDEX sudah lima jam dengan pelayanan yang sangat tidak profesional.

Saya menekan untuk kedua kalinya ingin berbicara dengan atasannya, namun Mas Rais mengatakan atasannya belum kembali ke kantor.

"ini jam kantor Mas. Bagaimana atasan anda tidak berada di kantor pada jam segini? Siapa nama atasan Mas Rais", saya disitu merasa sangat tidak dihargai oleh FEDEX Indonesia.

"saya tidak bisa menyebutkan namanya mas"

"apa alasannya Mas Rais tidak bisa menyebutkan nama atasan Mas Rais?"

sampai akhirnya Mas Rais menyebut dua nama; Ibu Tiur dan Bapak Ade. Orang-orang berwenang yang tidak mau menemui saya.

Saya sudah terlalu banyak mengorbankan pikiran dan emosi sampai akhirnya saya benar-benar menyerah dengan akan menebus angka yang diinginkan oleh FEDEX karena barang akan saya gunakan dalam waktu dekat (tanggal 14 Agustus 2013 sudah harus saya gunakan). Saya membayar Rp3.506.000 (angka yang sudah dikurangi kebijakan FEDEX handling free Rp250.000).

Kemudian masalah baru muncul, karena saya tidak mau menandatangani surat persetujuannya.

"Kami tidak bisa memberikan barang kalau Mas Febian belum tanda tangan"

"saya sudah bayar angka yang anda inginkan, sekarang anda memaksa saya menandatangi hal yang tidak saya setujui Mas Rais"

"tapi prosedur kami barang tidak boleh diserahkan sebelum costumer tanda tangan"

"FEDEX juga tidak mengikuti prosedur menghubungi saya tentang kenaikkan harga. Kenapa sekarang saya harus mengikuti prosedur anda? Mohon maaf, saya tidak mau tanda tangan mas, karena saya dari awal tidak setuju dengan angka tersebut dan saya pasti akan mempermasalahkan hal ini kemudian hari".

Karena kewajiban tanda tangan itu, akhirnya saya tanda tangan diselembar kertas (bukan di mesin) dengan menuliskan bahwa saya tidak pernah setuju dengan angka yang dibebankan FEDEX kepada saya, tanda tangan hanya bukti bahwa barang sudah saya ambil.
Berkas Pengambilan Barang
Setelah kejadian ini, kepercayaan saya terhadap FEDEX khususnya FEDEX Indonesia sudah tidak ada, saya sangat dirugikan materi, waktu dan pikiran. FEDEX tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap costumernya. Dan sekali lagi, FEDEX tidak mau bertanggung jawab untuk kesalahan yang sudah diakuinya.
Setelah saya mencari tahu di internet, masalah ini bukan yang pertama kalinya, nampaknya hal ini sudah menjadi hal yang biasa untuk FEDEX Indonesia.

Untuk FEDEX Indonesia, mohon dengar keluhan costumer kalian.



Salah satu bukti lagi ketidak profesionalan FEDEX Indonesia:
menggunakan kertas bekas untuk print berisi alamat-alamat costumernya yang seharusnya menjadi privasi costumer, dan diberikan ke saya.


 


SUMBER

Semoga bermanfaat

Saturday, 11 May 2013

From Bass, Marketing And Breakthrough It

Salam Weekend All :)

Lama sekali saya belum memposting artikel yang mendobrak pola pikir ala street marketer seperti yang saya alami sekarang.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan, apa yang Anda ketahui tentang pemasaran?

Apakah bagian dari nyawanya bisnis ?
Apakah bagian dari teori-teori yang menurut saya muluk-muluk -dan sering menggunakan bahasa yang terlalu sulit dimengerti oleh semua jenis kalangan awam-seperti yang pernah diajari oleh disekolahan ataupun dari buku-buku pemasaran dengan berbagai pola pikir matematis nya tersendiri oleh penulisnya ?

Berbagai video, ebook, literatur yang membahas pemasaran baik secara offline maupun online, pemasaran hanyalah bagian dari pola tersendiri oleh sang kreator teori. Berbagai kasus pemasaran, hanyalah Anda dan tim Anda yang memiliki peran penting disana sebagai problem solver.

Saya tidak bilang bahwa berbagai komparasi teori oleh para pakar pemasaran tidak penting, ataupun jasa konsultan pemasaran menjadi di anak tirikan. Bukan itu maksud saya.

Bisnis adalah bagian dari diri Anda sendiri. Anda yang jauh lebih mengerti tentang bisnis Anda, perilaku konsumen Anda, kapan dan bagaimana strategi pemasaran Anda berjalan.

Apakah pemasaran bisnis Anda sudah mengedepankan nilai-nilai cinta yang tak mampu dikalkulasikan ?

Pemasaran adalah seni, makanya saya selalu menggandeng nilai seni puisi, prosa dan kalimat-kalimat sastra sehingga ruhnya pemasaran hingga mencapai level Anda tidak mengharapkan apa-apa dari bisnis Anda. Seperti Anda mencintai seseorang tanpa perlu pengorbanan, tapi Anda tulus/ kudus mencintainya. Atau seperti ayam jantan yang tidak mempunyai alasan untuk menyukai pasangan betina, tapi begitu jadi maka jadilah harapan ada kehidupan baru dari telur-telur yang dibuahi oleh sang penjantan. Sederhana, tanpa alasan untuk mencintai.

Video berikut memberikan gambaran seorang pemain bass Barry Likumahuwa yang begitu mencintai profesinya, sedikit frontal dengan kebiasaan, namun berefek luar biasa dikehidupannya sekarang :




"Marketing is about passion. Leading by God for all of it ."
Salam

Ngobrol dengan saya di Twitter yuk ! :)




Wednesday, 6 March 2013

Pilkada Gubernur Sumatera Utara Komposisi Utama Gincu Branding

Pagi buta di waktu sekarang ini adalah waktu yang tepat bagi blogger untuk menuangkan ekspresi tulisannya. Alasannya karena bangun tidur lho, jadi pikiran masih fresh from kulkas, hehehehehehe...becanda kok :)

Di waktu bersamaan juga, hari ini Medan memilih siapa yang akan menjadi orang nomor 1 dan 2 di tanah pluralis Batak, Karo, Nias, Melayu dan lain-lain dalam heterogenitas masyarakatnya. Siapa yang akan memimpin SUMUT 1 dan 2 ? Hanya waktu lah yang menjawab. 


Nah, dengan 5 pasangan yang maju pada pilkada SUMUT, tentu membawa janji-janji politis yang bakalan nanti saya -kita- pasti tagih.

Pantaskah sebenarnya mereka ber-5 maju sebagai pemimpin SUMUT ? Secara urusan administrasi untuk maju sebagai calon pemimpin SUMUT, tentu sudah memenuhi syarat. Tapi tunggu dulu, apakah secara elektabilitas politik, genuine & authentic branding yang tak basa basi (tidak dibuat-buat) mereka semua mumpuni ? Ups, tunggu dulu. Biarkan pemerhati  branding yang berbicara ya :)

Medan sekarang lebih mendominasi kalangan kelas menengah dengan karakteristik rakus akan globalisasi, daya beli tinggi, berpengetahuan luas, dan berwawasan global. Mereka bersekolah tinggi. Mereka pengkonsumsi apps yang passionate (maklumlah, sekarang eranya digitalisasi). Nah, mampukah Medan sedikit tertiru pilkada DKI 1 yang mayoritas pemilihnya justru kelas menengah ini ? Yup, sepertinya masyarakat kelas menengahlah yang menentukan nasib SUMUT 1. Masyarakat ini tak bisa dibohongi dengan kebohongan janji politik atau biasa disebut oleh mas Yuswohady sebagai Gincu Branding (menor, norak, palsu)

Gincu

Untuk menjelaskannya saya ingin mengambil contoh gaya personal branding para politisi yang hampir setiap malam disaksikan iklannya di TV. Gaya dari iklan-iklan itu umumnya setali tiga uang: si tokoh menggunakan atribut-atribut partai dan atribut merah putih, menyuarakan nasionalisme, membela keadilan, perhatian kepada rakyat kecil, anti korupsi. Selalu saja tak ketinggalan, si tokoh mengedepankan prestasi-prestasi hebat yang telah dicapainya selama ini.

Dalam iklan itu si tokoh umumnya dipersonifikasikan sebagai sosok yang arif-bijaksana, pemurah, taat beragama, peduli pada kaum papa. Dalam adegan-adegan iklan biasanya digambarkan si tokoh merangkul pedagang pasar, memberikan sumbangan bencana alam, atau bersalaman dengan masyarakat tertinggal di pedalaman. Agar dramatis dan mengena hati pemirsa, seringkali gambar direkayasa dengan memberikan efek slow motion.

Untuk memperkuatnya, biasanya iklan dilengkapi dengan celoteh para selebriti yang berperan sebagai endorser (sebut saja mereka “cheerleader”) ngomong yang baik-baik mengenai si tokoh. Namanya saja iklan, tentu saja kurap, kudis, dan panu si tokoh disembunyikan rapat-rapat. Di layar TV pokoknya yang muncul serba kinclong. Tak tahu kenapa, setiap kali habis nonton iklan-iklan semacam ini mendadak saya matikan saja siaran TV nya dan kembali ke aktivitas blogging, hehehehehehhehe...

Tak cuma iklan TV, biasanya sosok si tokoh juga ditampilkan dalam billboard-billboard raksasa di jalan-jalan protokol dan strategis. Di situ terpampang para gubernur lengkap dengan seragam putih dan topi kebesarannya numpang nampang iklan promosi kampanye wisata daerah. Saya bingung tujuh keliling, kenapa juga foto si gubernur yang justru segedhe gadjah, sementara foto potensi wisatanya sendiri nyemplik kecil, kalah bersaing dengan foto mentereng sang gubernur. “Nabung elektabilitas” kali ya, untuk Pilkada mendatang, hehehe. (lagi-lagi saya ketawa :D )

Tidak seperti Jokowi yang ikhlas menggelar pelantikan walikota, iklan-iklan dan billboard-billboard itu umumnya digelar dengan tujuan strategis yang jelas, yaitu: menaikkan elektabilitas, menaikkan awareness, atau membangun citra mulia si tokoh. Tujuan akhirnya lebih jelas lagi, yaitu terpilih menjadi bupati, menjadi gubernur, atau menjadi presiden. Pasang iklan tiap malam di TV tentu saja membutuhkan investasi miliaran rupiah, dan setiap investasi harusnya menghasilkan ROI (return of investment) yang setimpal. Di sinilah keikhlasan dan ketulusan itu sulit kita temukan.

Iklan adalah media promosi yang diperoleh karena kita membayar (paid media). Karena membayar maka kita bisa merekayasa, memoles, memplintir, agar sampai maksud dan tujuan yang kita inginkan. Itu sebabnya iklan-iklan itu tidak bisa otentik, tidak bisa polos, tidak bisa apa adanya. Citra yang dibangun iklan tersebut penuh dengan rekayasa, intrik, dan kemunafikan. Itulan yang saya sebut gincu branding. Sebuah strategi branding yang “roh”-nya adalah udang di balik bakwan.

Untuk menjalankan authentic branding dibutuhkan tokoh pemimpin yang berkarakter. Saya hanya berdoa semoga SUMUT dipimpin oleh authentic character, karakter yang tanpa basa basi.  Karena dengan begitu setiap polah tingkahnya akan menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama para politisi yang berambisi menjadi bupati, gubernur, atau presiden.

Marketing Al Amin

Marketing adalah al amin alias trusted dan dapat dipercaya. Kalau produknya jelek harus berani dibilang jelek. Begitupun kalau produknya bagus dibilang bagus dilandasi kejujuran dan bukti-bukti yang dapat dipercaya. Marketing juga adalah kesesuaian antara janji dengan bukti. Ketika selama kampanye seorang calon pemimpin berjanji kepada masyarakat pemilihnya, maka ketika terpilih ia harus bisa mewujudkan janji tersebut menjadi kenyataan.

Marketing itu tidak ada yang instan. Ya, karena produk yang betul-betul bagus adalah hasil perasan keringat, buah dari kerja keras bertahun-tahun, tak ada yang semalam jadi. Membuat produk jelek menjadi bagus melalui pemolesan/pembedakan/penggincuan di mata publik itu baru instan. Marketing pencitraan memang bisa dibuat instan, tapi marketing al amin butuh kerja keras bertahun-tahun disertai kejujuran dan kearifan.

Oleh karena itu saya memaknai marketing dalam konteks pemilihan capres/caleg/cagub-bup sebagai proses menciptakan capaian (achievement) dan membangun karakter (character-building) dari si calon. Memarketingkan capres atau cagub bukanlah memasang baleho foto si calon di seantero negeri atau menayangkan spot iklan TV si calon 60 kali setiap hari menjelang hari pencoblosan.

Character Matters!

Aktivitas fundamental memarketingkan capres atau cagub adalah bagaimana si calon menciptakan legacy demi legacy prestasinya melalui kerja nyata dan bagaimana melalui perilaku sehari-hari sebagai pemimpin ia membentuk karakternya yang otentik (authentic character). Itu semua dibangunnya jauh sebelum si capres atau cagub menyongsong pencoblosan. Dari track record si calon tesebut terbentuklah ekuitas merek (brand equity) si calon yang baik di mata stakeholders-nya. Ekuitas merek kokoh inilah yang secara genuine akan mengantarkan si calon memenangkan pemilihan.

Kemenangan Jokowi-Ahok merupakan kasus menarik karena kemenangan tersebut merupakan cermin keunggulan “marketing al amin” atas “marketing pencitraan”. Proses kemenangan Jokowi tidak diperoleh secara instan beberapa minggu menjelang pencoblosan, tapi sudah dibangun bertahun-tahun sebelumnya melalui capaian-capaian luar biasa selama menjadi walikota Solo. Kemenangan Jokowi juga bukan semata hasil dari aksi merakyat yang dilakukannya selama kampanye, tapi dari karakter kepemimpinan yang ia praktekkan selama menjadi walikota Solo, terlepas dari selentingan : ..."menghadapi mamak banteng aja, Jokowi jadi keder...." #peaceman ^^v

Namanya saja karakter, tak mungkin bisa diubah dalam kurun waktu 3 bulan, 6 bulan, atau setahun menjelang pencoblosan. Mana bisa secepat bus Medan-Brastagi tiba-tiba menjadi pemurah. Mana bisa seumur-umur tak pernah turun ke masyarakat tiba-tiba menjadi sosok merakyat. Mana bisa seumur-umur menyunat uang rakyat tiba-tiba menjadi malaikat.

Pelajaran Berharga

Kasus kemenangan Jokowi-Ahok mengandung pelajaran berharga bagi para capres/caleg/cagub-bup yang akan maju untuk dipilih rakyat. Bagi mereka pelajarannya jelas bahwa memarketingkan diri (marketing yourself) si calon bukanlah ditempuh melalui proses pencitraan apalagi politik uang, tapi melalui proses character building yang dipraktekkannya jauh sebelum hari pencoblosan. Berkaitan dengan hal ini, marketing capres/caleg/cagub-bup menjadi tiga tingkatan.

Tingkatan pertama adalah yang paling hina yaitu dengan cara menyogok pemilih. Lebih hina lagi jika uang yang digunakan untuk menyogok itu adalah uang hasil korupsi. Tingkatan kedua adalah dengan cara melakukan pencitraan dimana muka bopeng-bopeng ditutup rapat dengan bedak dan lipstik. Dan tingkatan ketiga adalah yang paling al amin yaitu si calon mempersiapkan diri dengan membangun prestasi dan mengatur sikap dan perilakunya sehingga memiliki karakter arif-bijaksana.

Bagi tim sukses dan konsultan si calon pelajarannya pun jelas, bahwa marketing capres/caleg/cagub-bup bukanlan sesederhana memasang poster/baleho, menayangkan iklan TV si calon, atau melakukan serangan fajar menjelang hari pencoblosan. Upaya memenangkan seorang calon pemimpin adalah sebuah proses etis untuk menemukan sosok yang memiliki kompetensi teruji dan karakter yang agung.

Seperti terlihat pada proses kemenangan Jokowi-Ahok, ketika kompetensi teruji dan karakter agung itu sudah terpenuhi, sesungguhnya marketing cagub itu nggak  neko-neko. Nggak perlu teknik marketing yang canggih. Cukup mengkomunikasikan track record dan karakter yang sudah melekat pada si calon pemimpin secara authentic dan genuine, tanpa ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Bahkan mungkin tak perlu baleho besar-besar atau iklan TV yang menggemparkan.

Word of Mouth

Karisma pemimpin yang memiliki track record baik dan karakter agung secara natural akan memancar ke segala penjuru dan memicu promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) dari para pemilihnya. Masyarakat pemilih menjadi ambasador si calon pemimpin yang secara sukarela menyebarkan pesan-pesan positif kepada pemilih lain. Harap diketahui, dalam konsep marketing, promosi dari mulut ke mulut ini adalah bentuk promosi yang paling murah tapi memiliki dampak luar biasa (low budget high impact).

Karena itu, kalau seluruh calon pemimpin cerdas menggunakan pendekatan marketing al amin untuk menghasilkan promosi dari mulut ke mulut yang begitu powerful ini, wow alangkah indahnya negeri ini. Ya, karena dengan begitu tak akan ada lagi capres atau cagub yang repot-repot melakukan korupsi untuk mendanai kampanyenya.

Salam Tong F*ng Medan ku 1

Disadur dari Political Marketing Yuswohady


Friday, 16 November 2012

Empati, Mi Instan & Harapan

"Hidup tak selezat mi instan..." - Anonym

Siapa yang tak suka dengan hal yang instan ? Contohnya, kaya mendadak karena lotre, dapat warisan entah darimana datangnya, atau menjadi artis idola lewat jalur kompetisi dan hal-hal instan lainnya yang tak bisa disebutkan semuanya.

Semua hal instan tersebutselain dapat menghemat waktu, tenaga, materi dan lain-lain, memang sudah menjadi bagian dari sifat manusia untuk menyukai proses instan.

Nah, siapa yang suka mi instan ? Saya juga suka kok. Selain mudah penyajiannya, aroma yang menggoda dan rasanya yang lezat memang sengaja dirancang agar membuat kita puas dengan mi instan. Tahukah Anda informasi kesehatan tentang min instan yang biasa beredar di pasaran ?

Saya pastikan Anda juga bisa mencari artikel tentang bahaya dari memakan mi instan secara intens. Dampaknya bisa memicu kanker, usus di potong, dan lain sebagainya.

Tapi di beberapa lapisan masyarakat khususnya ekonomi lemah, mi instan justru menjadi pelipur lara perut yang kosong. Bayangkan, dengan uang seribu Rupiah saja sudah bisa menikmati seporsi mi instan setara dengan sepiring nasi untuk mengganjal perut. Layaknya, mi instan hanyalah sebagai makanan darurat saja sebagai pengganti makanan utama.

Empati

Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya mi instan lebih di asosiasikan dengan makanan si jelata. Jelata bagi keluarga kurang mampu, mahasiswa berkantong tipis, dan seperti saya yang harus berhemat untuk biaya hidup setelah akad nikah, hehehehehehe...

Mari kita berhitung dulu ya. Jika dalam sehari kita makan 3 kali sehari dengan hitungan per sekali makan habis uang Rp 10.000/ porsi/sekali makan dengan minum hanya air putih masak, maka dalam sebulan habis biaya makan hingga rata-rata Rp 900.000/bulan.

Jika dengan makan mi instan hanya habis biaya Rp2.500/ porsi/ sekali makan dengan asumsi sehari 3 kali makan dan minum air putih masak, maka dalam sebulan hanya habis Rp 225.000/ bulan. Bandingkan perbedaan angka 900.000 dengan 225.000. Perbedaan angka yang fantastis jika dilihat dari sisi rakyat jelata.

Harapan

Bukan tanpa alasan memindahkan kebiasaan sehat menjadi makan-makanan instan yang murah. Saya setuju dengan Anda dengan jawaban alasan PENGHEMATAN. Alasan klasik seperti gaji tanggal 1 sudah koma alias gaji sudah tak cukup untuk menutupi kebutuhan pokok padahal baru tanggal muda, alasan menabung untuk investasi masa depan, atau alasan-alasan yang lain.

Bukan berarti para mahasiswa harus dipaksa untuk tidak makan mi instan kalau toh juga biaya pendidikan makin mahal. Tapi itulah korelasinya jika biaya pendidikan makin tinggi, sudah seharusnya makin mengencangkan ikat pinggang dan memberi isi perut dengan mi instan.

Bukan berarti dengan paksaan ekonomi makin banyak warga pinggiran makin memfavoritkan makan mi instan dan traditional dry rice ( nasi aking) sebagai dampak makin sulitnya mendapatkan penghidupan yang layak di negeri sendiri.

Empati & Harapan

Apakah arti empati bagi kita semua jika ada tetangga di sebelah masih harus menahan lapar? Apakah kita masih sanggup menggantungkan harapan dari berseliwerannya mobil box mi instan yang sedang mendistribusikan mi instannya ? Atau, masihkah kita harus miskin dengan makanan pokok mi instan ?

Ditengah saudara-saudara kita yang masih mengkonsumsi pangan mi instan, masih ada harapan untuk perjuangan penghidupan layak , seperti pendidikan yang terjangkau, menjadi pasangan yang harmonis yang tak cekcok dengan masalah dapur keuangan, dan kesehatan yang layak walaupun  menapaki proses yang tak instan pula akan cita-cita masing-masing individu dan kolektif.

"Tulisan ini sebagai renungan sebelum liburan"



Monday, 5 November 2012

Secercah Kemandirian

Hari ini saya masih diberi kesempatan untuk menulis blog kesayangan yang satu ini. Alhamdulillah ya,hehehehe...

Sudah 26 tahun saya masih numpang di planet bernama bumi hanya untuk sekedar mencari pembenaran salah satu hal penting dalam hidup kita yaitu makna kemandirian.

Kita ambil contoh sederhana, seseorang yang rela untuk meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke daerah lain untuk penghidupan yang layak bisa dipastikan akan lebih terpacu semangat bertahan hidup misal bekerja dengan sungguh-sungguh karena pekerjaan tersebut yang menjadi sumber penghidupan satu-satunya.

Apakah kita harus menjadi perantauan agar terbentuk mental mandiri ?

Tidak juga. Contoh lain seperti berusaha menjadi pedagang/ pengusaha di bumi tempat kaki berpijak juga termasuk langkah menuju kemandirian kok. Mandiri dalam hal finansial lho.

Terus, gimana dong supaya menjadi mandiri ? "Malu dong kalau mandi aja masih di mandiin ama emak.." celoteh anak-anak zaman sekarang. Makanya, baca terus artikel saya ini ya.

Menjadi Mandiri

Sedikit berbagi pengalaman saya berbincang dengan tukang becak bermotor langganan. Kita sebut saja pak Marbun namanya. Beliau semasa masih remaja sudah berprofesi menjadi tukang becak dayung. 30 tahun kemudian becaknya sudah memiliki mesin sehingga berprofesilah menjadi tukang becak motor yang setia mengantarkan para penumpangnya menuju alamat yang ditujukan. Ya, sekarang beliau di usia senja masih setia dengan profesinya sebagai veteran tukang becak ditemani seorang istri yang selalu setia dengan pak Marbun. Sampai sekarang tetap setia untuk menyisihkan sebagian pendapatan untuk pembangunan gereja ditempat pak Marbun biasa beribadah walaupun dalam nominal sangat kecil.

Cerita lainnya adalah kawan saya yang sudah bekerja sebagai pegawai swasta dengan posisi yang layak dan mendapatkan gaji yang pas untuk menghidupi dirinya sendiri, tapi masih terus saja mengeluh dengan setumpuk masalah kerjaan kantoran yang selalu mengganggu psikisnya dan terus menerus merasa tidak puas dengan gaji yang diterimanya tiap bulan. Alhasil, gajinya pun habis untuk sekedar entertainment/ liburan.

Ada juga seorang teman saya juga yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya, kemudian terpuruk dalam kemiskinan. Berkat kemampuannya untuk bangkit dari keterpurukan mental, akhirnya sekarang sukses menjalani bisnis ponsel di kotanya, walaupun semasa masih merintis usaha ponselnya, saudara-saudaranya menganggap sebelah mata karena teman saya ini dianggap tidak kompeten berbisnis. Nyatanya, beliau sekarang termasuk dalam jajaran pengusaha yang patut diacungi jempol oleh berbagai kompetisi wirausaha seperti wirausaha muda mandiri. Setiap hari terus dibiasakannya untuk bersedeqah kepada yang berhak sebagai wujud empati susahnya hidup seperti yang pernah ia rasakan juga.

Nah, apa arti kemandirian dari ketiga cerita tadi ? Menurut saya adalah :

1. Totalitas

Totalitas / kesungguhan kita menjadikan diri sebagai pribadi yang sangat pantas akan profesi yang kita jalani saat ini adalah salah satu kunci utama kemandirian. Totalitas muncul jika kita mencintai pekerjaan/ kehidupan kita. Kesungguhan kita dengan pekerjaan saat ini, menunjukkan kita mandiri secara persepsi bahwa kita bekerja seolah-olah pekerjaan tersebut adalah perjuangan hidup dan mati. Andaikan besok Anda akan mati, tentunya hari ini Anda akan sangat bersungguh sungguh berbuat baik dengan sesama dan begitu khusyuk beribadah, bukan ? Dengan totalitas, kita dianggap loyal dan berdedikasi lho.

2. Persepsi yang benar

Pada cerita pegawai swasta di atas, menunjukkan bahwa dia mandiri secara finansial, tapi masih bermanja-manja dengan entertainment (hura-hura) sebagai pelampiasan ketidak puasan dengan kondisinya saat itu. Kita tidak harus menjadi mandiri semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses pembelajaran agar memiliki pandangan hidup (persepsi) yang benar seperti semula mandiri secara finansial, kemudian mandiri secara kejiwaan, naik tingkat lagi menjadi mandiri dalam hal berpikir objektif sehingga tercapai kemandirian secara utuh. Terus membenahi cara berpikir juga termasuk proses menuju kemandirian berpikir.

3. Berpikir cerdas

Pikiran adalah pelita harapan. Semboyan ini benar adanya. Bayangkan apabila suatu pekerjaan dikerjaan ala orang bodoh. Tentu hasilnya buruk bukan ? Meningkatkan kualitas diri melalui membaca, mengikuti forum diskusi hingga menjadikan diri pribadi yang layak disebut mandiri secara intelejensia.

4. Syukur

Nilai tertinggi bahkan (menurut saya) tidak semua orang bisa melakukannya adalah syukur. Lihatlah kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah tapi rakyatnya masih miskin. Ini adalah tanda kita masih belum mandiri karena kurang bersyukur kepada Tuhan yang Maha Memiliki. Arti syukur adalah kita mampu dekat dengan Tuhan seperti taat dengan aturan yang digariskan Tuhan sehingga apapun kehidupan yang dijalani tentunya menunjukkan kemandirian secara spiritual. Syukur juga dapat membentengi diri dari sikap gampang menyerah, karena dengan bersyukur kita menjadi optimis besok akan lebih baik daripada hari ini. Sudahkah kita bersyukur untuk hari ini karena masih diberi kesempatan membaca artikel blog saya ini ? hehehehehe

Kesimpulan

Menjadi pribadi yang mandiri adalah dambaan bagi orang-orang pemberani, dinamis dan siap menerima kesuksesan. Tak lagi berpangku tangan, mampu bekerja sendiri adalah definisi kuno tentang arti kemandirian. Mandiri adalah serangkaian sistem pendukungnya yang bekerja secara harmoni seperti totalitas, berpikir cerdas, memiliki persepsi hidup yang tepat dan rasa syukur.

Ini adalah definisi mandiri menurut saya. Bagaimana dengan Anda ?

"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“







Saturday, 6 October 2012

Manusia Komisi Pemberantasan Korupsi

Wong namanya juga negara masih berkembang di Indonesia, suatu saat yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang bagaimana tingkatan korupsi di berbagai negara. Perhatian saya tertuju pada bagaimana keadaan suatu negara yang korup dapat dilihat dari siapa pihak yang paling korup dan dominan dalam korupsi.

Berikut ulasannya :
 
1. Negara paling miskin yang korup adalah para penguasa lokal yg miliki senjata. Contoh negaranya adalah Afrika pedalaman.

2. Negara terbelakang maka yang korup adalah rejim mi
liternya seperti Korea Utara.

3. Negara sedang membangun maka yang korup itu rejim kepolisian, aparat hukumnya. Indonesia lebih berada di titik ini.

4. Negara yang sudah berkembang maka yang korup adalah para politisinya. Negara Eropa Barat diluar Jerman, Skandinavia berada di titik ini seperti Italia atau Spanyol.

5. Negara maju maka yang korup adalah para top eksekutif MNC (Multi National Corporation), investment Banker serta pemilik pemilik modal greedy. Jerman, AS, Jepang ada di titik ini.
 
Nah, super power aparat kepolisian yang kabarnya dari Polda Bengkulu dan Metro Jaya lagi-lagi menunjukkan aksi "solidaritas" sangat salah arah dengan akan menangkap Wakil Ketua Satuan Tugas Penyidik Kasus Simulator SIM KPK, Kompol Novel Baswedan dan Yuri Siahaan, keduanya berasal dari POLRI. Kasus ini menyeret perwira tinggi POLRI, mantan Dirlantas Mabes POLRI, Irjen Djoko Susanto. (sumber)

Bukankah penanganan kasus korupsi sudah menjadi wewenang KPK? Dan bukan rahasia umum lagi jika korupsi di tubuh kepolisian RI sangat mudah ditemukan mulai dari level jalanan raya, pengurusan SIM, surat menyurat, dan lain lainnya?

#saveKPK sudah menjadi trending topic di twitter. Kekuatan netizen menunjukkan tajinya bahwasanya kebenaran akan fakta/ isu akan mudah menyebar melalui social media. Dan ini (lagi-lagi) menjadi bumerang kepolisian RI.

Social media memiliki peran penting untuk mendukung penuh jihad KPK melawan korupsi.

Selamatkan KPK. Hidup mulia dengan memberantas korupsi.




Wednesday, 26 September 2012

Pendatang Baru Bernama Tata Motor Indonesia

Sudah terobesi punya mobil baru tapi dana masih mencekik ? Mmm...jangankan Anda, saya pun juga punya keinginan memiliki mobil yang harganya sangat murah namun tetap berkualitas tinggi, ramah lingkungan, layanan purna jual yang mendukung dan sangat hemat bahan bakar.

Saya bisa memberikan alternatif mobil tersebut bisa dijawab oleh Tata Motor Indonesia.

Pasar otomotif mobil di Indonesia memang sangat ketat. Apalagi saat ini masih dipegang kuat oleh beberapa merk ternama yang merupakan pemain lama seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Mercedez Benz, BMW, KIA, Hyundai dan sebagainya. Kehadiran brand baru seperti Tata Motor dengan merk ternama mereka -Tata- pasti menambah sengit perang di pasar otomotif Indonesia.

Kita sebut saja produk andalan mereka yang menjadi ikon mobil termurah di dunia yaitu Tata Nano.

Dengan spesifikasi :









Dimensi

Panjang keseluruhan 3.099 mm
Lebar 1.495 mm
Tinggi 1.652 mm
Wheelbase 2.230 mm
Ground clearance 180 mm
Kapasitas 4 orang
Berat 600-635 kg

Mesin

Tipe: 624 cc, 2 silinder, MPFI
Daya maksimum 35 hp pada 5.200 RPM
Torsi maksimum 48 Nm pada 3.000-3.500 RPM
Kecepatan maksimum 105 km/h
Konsumsi BBM 23,6 km per liter

Suspensi

Depan Independent, lower wishbone, McPherson Strut
Belakang, Independent, Semi Trailing arm with coil spring Ban
Ukuran ban depan 135/70 R 12
Ukuran ban belakang 155/65 R 12
(sumber)

Diperkirakan harga jual on the road sekitar 30 jutaan (sumber)

Bagaimana respon masyarakat terhadap mobil ini ? Tentu beragam tanggapan di lontarkan seperti yang dilaporkan salah satu portal berita di ajang IIMS 2012 (silahkan klik)

Strategi Tata
Menilik dari pernyataan Mr. Biswadev Sengupta, president director Tata Motors Indonesia sebagai berikut :

"Saat ini Tata masih berada pada tahap yang sangat awal. Saat ini kami sedang menyemai untuk menumbuhkan brand image di masyarakat Indonesia. Indonesia adalah pasar besar si kawasan dan berpotensi menjadi pasar utama di dunia. Populasi mobil masih 40 per 1000 penduduk, jauh dibawah Thai yang sudah 150 per 1000 penduduk. Indonesia masih terus akan berkembang. Didukung perkembangan ekonomi yang terus meningkat.  Membuat rakyat Indonesia punya uang. Hal itu melahirkan kebutuhan untuk memiliki properti, mobil, perhiasan dan lain sebagainya. Indonesia juga negara besar, bukan cuma  jabodetabek. Tata akan mengembangkan pasar ke seluruh Indonesia bukan cuma Jawa. Kami sangat serius untuk masuk Indonesia. Kami lakukan dengan sungguh-sunguh. Dan begitu kami masuk, kantor pusat kami akan benar-benar komitmen. Sebelumnya kami sudah lima tahun menjalankan bisnis di Thailand, kami sudah belajar tradisi bisnis dikawasan ini. " (sumber )

Sebagai pendatang baru, perlu tenaga yang ekstra keras untuk menggerakkan lokomotif Tata di pasar otomotif Indonesia. Apa brand image Tata yang ingin di bangun? Apa pula Authentic Brand Story yang akan dibangun untuk mengakselerasi promosi WOM oleh Tata ? Strategi apa yang akan dibangun mengalahkan Goliath Toyota dan merk-merk lainnya yang sudah lama di Indonesia? Jalur kanal promosi pemasaran manakah yang  efektif untuk segera memanen image ? Sudah siapkah sistem produksinya untuk menghindari indent panjang ? Bagaimana kesiapan layanan purna jualnya? dan segenap pertanyaan lainnya yang menghadang di depan Tata Motor Indonesia...

Sungguh pertanyaan yang singkat namun patut dipersiapkan langkah-langkah nyata sebagai pendatang baru.

Perlu Segalanya


Tak bisa dipungkiri, animo masyarakat akan mobil murah, ramah lingkungan dan hemat bahan bakar merupakan sinyal akan ceruk pasar yang sangat potensial untuk digarap. Tata motor mencoba menggarapnya dengan memperkenalkan produk Tata Nano sebagai solusinya. Bagaimana respon masyarakat kedepannya ? Perlu persiapan matang, apalagi pesaing utama Tata Nano kalau di lihat lebih teliti lagi, justru datang dari penjualan mobil bekas dengan sederet produk mobil dari merk-merk yang sudah sangat kuat.

Keraguan utama kebanyakan konsumen otomotif adalah kualitas. Apakah Tata Motor mampu menghadirkan kualitas produk yang handal layaknya produk Jepang? Saya pikir, perusahaan yang sudah go international seperti Tata Motor sudah menjamin keunggulan produknya. Nah, bagaimana mengubah persepi merk yang selama ini masih menjadi image merk kebanyakan konsumen agar segera beralih ke produk dengan merk Tata ?

Kita ambil saja contoh kasus merk sepeda motor dari India,  Bajaj Pulsar dengan mengusung teknologi twin spark yang mampu membuat kendaraan menjadi sangat hemat konsumsi bahan bakar fosil (BBM) dibanding sepeda motor merk jepang seperti Honda atau Yamaha. Kualitasnya mampu menyaingi merk-merk Jepang. Layanan purna jualnya juga mantap. Namun lihatlah kenyataan dilapangan, walaupun  Bajaj Pulsar yang mampu membuat rekor MURI sebagai kendaraan sport paling hemat masih harus tertatih-tatih melawan gempuran persepsi masyarakat " kalau naik kreta, ya naik Honda aja".

Begitulah stereotip masyarakat akan brand image. Susah lho mengubahnya untuk memilih merk yang lain.

Angin Segar

Konsumen Indonesia juga orang pintar. Apakah Tata Nano dipersepsikan konsumen sebagai produk untuk kelas masyarakat menengah ke bawah ? Tentu itu berkorelasi erat dengan harga. Apakah harga yang ditawarkan sepadan dengan fasilitas yang diberikan sesuai dengan harapan konsumen? Saya pikir, konsumen tetap lah makhluk yang serakah untuk memberikan kompensasi sekecil-kecilnya untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya. Namun, dengan perkembangan era digital, memunculkan konsumen yang dedicated dan rasional.

Dengan dukungan program pemerintah low cost green car, peluang makin terbuka lebar.

Saya pikir, Tata muncul disaat waktu yang tepat dengan kondisi yang tepat pula.

Bagaimana dengan Anda menilai Tata sebagai pendatang baru di pasar otomotif Indonesia? Berikut video Tata Nano dengan versi teranyarnya yaitu Tata Pixel dan Tata Megapixel. Saya yakin, Anda terkagum kagum dengan mobil -kacang goreng- Tata dan kemungkinan besar Anda akan sangat bernafsu untuk memilikinya segera .

Let's check it out!

 

 

 

Menarik sekali video yang ditampilkan. Bisa saja muncul pernyataan yang merakyat seperti berikut ini :
"Ketimbang naik kereta kena panas dan hujan, lebih baik naik mobil Tata Nano/ Pixel / Mega Pixel." hehehehehe

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.


















Monday, 24 September 2012

Social Media Engineering Ala Jokowi-Ahok

Pertarungan dua kubu, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, dalam memperebutkan suara warga dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tidak hanya terjadi di dunia nyata. Di dunia online, pertarungan juga terjadi dan tidak kalah seru.

Pertarungan keduanya seolah menjadi pertarungan dua brand yang berbeda. Sebelum memasuki pentas pemilihan kepala daerah DKI Jakarta,Fauzi Bowo (Foke) dan Joko Widodo (Jokowi) merupakan dua brand yang memiliki penetrasi di medan yang berbeda-beda. Jokowi, dengan latar belakang daerah, otomatis tak begitu dikenal luas seperti halnya Foke yang sudah akrab di telinga warga ibu kota Jakarta.

Namun, dalam rentang dua bulan terakhir, brand Jokowi justru berada di atas brand Foke. Seperti halnya, hasil hitung cepat perolehan suara Pilkada Jakarta putaran II, pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengungguli pasangan Foke-Nachrowi Ramli (Nara).

Fenomena ini dengan mudah bisa dicatat oleh berbagai situs pemeringkat kompetisi brand melalui pelacakan rekam jejak percakapan terkait dengan dua nama yang berkompetisi itu di jagat internet.

Menurut laman web analytics.topsy.com, salah satu situs yang menyediakan pelacakan percakapan brand, terutama di jejaring sosial Twitter, sejak 24 Agustus 2012, kata kunci Jokowi terus memimpin melawan Foke hingga 21 September, sehari setelah pemungutan suara. Jokowi rata-rata dibicarakan 15.000-30.000 kali tiap hari.

Dari grafis yang dihasilkan Topsy, banyaknya mention atau penyebutan terhadap brand Jokowi ataupun Foke berbanding lurus dengan berita yang ada di media massa.

Nama Jokowi di dunia maya terutama melonjak dibicarakan orang pada 16 September, dipicu berita di sebuah media massa berjudul ”Foke Pertanyakan Motivasi Jokowi Jadi Cagub”.

Berita itu tampaknya lebih condong mengekspos nilai negatif dari Jokowi, tetapi kenyataannya justru memberi umpan balik atau sentimen positif terhadap Jokowi dengan menghasilkan sebanyak 88.441 percakapan di Twitter. Pada hari sama, percakapan terhadap brand Foke menghasilkan 58.511 kali, dengan berita ”Inilah ’Positifnya’ Jokowi di Mata Foke”.

”Fokoke Jokowi”

Jelang hari-H pencoblosan, ada satu tulisan unik bernada humor yang mengatrol pembicaraan positif mengenai Jokowi. Tulisan itu remeh-temeh dan tidak didesain untuk kepentingan kampanye serius, hanya berupa kelakar. Judulnya, ”Baru dapat kabar, Jokowi akhirnya berkoalisi dgn Foke. Namanya Fokoke Jokowi”.

Humor itu ternyata menjadi titik tertinggi untuk meroketkan brand Jokowi dengan total pembicaraan di media sosial naik tajam dari 51.727 menjadi 315.920 kali. Pada hari yang sama, brand Foke juga menanjak, dari 30.458 menjadi 128.561 kali dengan dipicu berita ”7 Janji Foke”.

”Fokoke Jokowi” adalah contoh pengolahan slogan yang kreatif, yang pada malam sebelum pencobloson seolah bergerak menjadi ribuan pasukan yang menghampiri para calon pencoblos via Twitter, Facebook, blog, pesan singkat SMS, juga pesan Blackberry Messenger (BBM). Slogan itu telah menjadi viral marketing, pemasaran gratis yang menyebar bak virus online.

Ikon lain yang berhasil menjadi duta media sosial melawan Foke adalah gambar dengan teks nyentil, ”Jakarta will be OK without F”. Slogan ringan dan menggelitik ini hampir tak terjadi pada kubu Foke.

Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang bergulir dominan, untuk kelas menengah di perkotaan, ternyata tidak didistribusikan sebagai virus online.

Dengan menggunakan tools atau peralatan analisis lain, bisa dilacak percakapan Foke sebenarnya bukan kalah populer. Hanya saja, sentimen positif lebih lari ke percakapan Jokowi. Hal ini bisa dilihat di socialmention.com, salah satu laman web yang menganalisis kata kunci di berbagai situs jejaring sosial.

Di Social Mention, brand Jokowi memiliki kekuatan 26 persen, sedangkan Foke 21 persen. Kekuatan ini adalah angka unik dari socialmention.com yang diukur berdasarkan jumlah diskusi terhadap brand di media sosial.

Perbandingan sentimen positif terhadap sentimen negatif pada kubu Jokowi adalah 8:1, sedangkan untuk Foke 2:1. Tampak bahwa kubu Jokowi diuntungkan dengan sentimen positif ini.

Unik juga untuk dicatat, brand Jokowi secara konsisten frekuensinya lebih sering dibicarakan dibandingkan dengan Foke, yaitu rata-rata tiap 28 detik sekali untuk Jokowi dan 1 menit sekali untuk Foke.

Howsociable.com menguatkan pernyataan itu dengan memberi skor magnitudo untuk percakapan Jokowi sebesar 6,4, sedangkan Foke 6,1.

Jokowi unggul di semua situs jejaring sosial, misalnya di Twitter, Facebook, Youtube, Google plus, Tumblr, dan Yfrog.

Partisipasi kelas menengah

Analis pemasaran internet yang juga CEO Virtual Consulting, Nukman Luthfie, memaparkan, kampanye di media sosial dalam Pilkada DKI Jakarta merupakan contoh paling bagus untuk melihat bagaimana media sosial bekerja.

”Jakarta adalah pusat penggunaan media sosial di Indonesia, pengguna Twitter di Jakarta paling banyak, akibatnya pembicaraan Pilkada DKI di Twitter ramai,” katanya.

Kampanye di media sosial telah menjadi perang terbuka bagi para pendukung. Bahkan, perang itu juga melibatkan orang luar daerah mengingat Jokowi dan Ahok berasal dari luar daerah. Uniknya, justru latar belakang calon yang luas itu memicu penyebaran pembicaraan hingga luar Jakarta, mereka ikut membangun pencitraan untuk kubu Jokowi-Ahok.

”Orang-orang yang tadinya tidak antusias menjadi antusias membahas Pilkada Jakarta. Perbincangan di kelas menengah, terutama di Twitter, menjadi kencang,” kata Nukman.

Mereka lebih memilih perang lewat Twitter, bukan lewat Facebook. Perang ”140 karakter” lewat Twitter kini lebih disukai masyarakat perkotaan dibandingkan dengan di Facebook.

Perilaku ini khas berasal dari generasi melek Twitter. Dengan demikian, mereka ini adalah generasi baru yang memasuki ranah politik. ”Inilah awal dari partisipasi masyarakat kelas menengah di bidang politik,” kata Nukman.

Lalu, mengapa Jokowi dalam percaturan media sosial unggul dibandingkan dengan Foke?

”Jokowi muncul karena perlawanan, orang sudah capai dengan wajah lama. Foke sudah 35 tahun di pemerintahan Jakarta,” kata Nukman. Terlebih lagi, Jokowi ternyata lebih dekat dan lebih ramah dengan blogger dan pengguna Twitter.

Bukan berarti kubu Foke tak mengerahkan kekuatan media sosial. Kata Nukman, kubu Foke justru merekrut orang-orang profesional yang hidupnya memang berasal dari jualan kampanye di media sosial. Sebaliknya, kubu Jokowi lebih mengandalkan sukarelawan, bahkan banyak di antaranya tak dibayar.

Hal menarik lain dalam perang media sosial, pada putaran kedua media sosial lebih banyak digunakan sebagai black campaign.

”Jika pada putaran pertama lebih ke perang program, pada putaran kedua ini digunakan untuk kampanye hitam, saling menjatuhkan satu sama lainnya,” kata Nukman.

Beberapa kampanye hitam itu ditengarai berhasil mendongkrak perolehan suara Foke, terutama dari masyarakat kalangan bawah. Hanya saja, Jokowi akhirnya memenangi pertandingan ini karena faktor orang-orang Jakarta yang ingin melihat perubahan.

Pantas diapresiasi

Satu hal yang pantas diapresiasi dari perang 140 karakter ini, kata Nukman, adalah meskipun pertengkaran dan perselisihan pendapat tinggi di tingkat media sosial, di dunia nyata tak pecah pertikaian.

”Calon petahana juga fair dalam menanggapi hasil perhitungan cepat. Dari kubu yang menang sementara versi hitung cepat juga tidak arogan menghina. Tim sukses juga tidak saling berantem, inilah contoh penggunaan media sosial yang baik untuk daerah lain,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto memiliki penilaian senada. Menurut dia, kedua kubu sama-sama menggunakan media sosial dengan intens. Kedua pihak menyadari media sosial sangat membantu dalam hal pembentukan citra para kandidat, menyampaikan pesan kampanye, serta visi-misi-program para kandidat.

”Sejak awal kita melihat para simpatisan Jokowi, yang merupakan paduan dari tim yang dibentuk tim sukses serta para sukarelawan, ikut berkontribusi pada pembentukan citra positif Jokowi-Ahok,” kata Haryanto.

Pertarungan/kampanye tidak hanya melalui baliho dan koran, tetapi juga sampai ke videoklip yang dibuat oleh dua kubu. Kalau mau membandingkan dari sisi video klip, menurut Haryanto, kubu Jokowi-Ahok menawarkan kesegaran dalam penyajian, menyasar anak muda, dan juga massa mengambang.

”Sementara kalau melihat video klip resmi yang dipergunakan Foke-Nara, kelihatan menyasar kelompok menengah bawah dan menonjolkan iming-iming atau janji yang selama ini diklaim sebagai prestasi Foke,” kata Haryanto.

Soal isu SARA, dia juga meyakini bahwa isu tersebut tidak efektif walaupun sudah sedemikian rupa mendiskreditkan Jokowi-Ahok.

”Hingga Kamis (20/9/2012) pagi pun, seorang teman masih menemukan selebaran yang ditumpuk di wilayah Pasar Minggu dan itu tak menggoyahkan perilaku pemilih. Jadi, memang isu SARA tidak menjadi faktor utama. Pendekatan kuno untuk mendiskreditkan begini sudah tak lagi atau tidak akan ’dimakan’ oleh masyarakat umum walau belum seluruhnya. Jika memang ada kedewasaan masyarakat dalam menyikapi hal ini, kampanye hitam apa pun tak kena,” kata Haryanto.

Belajar dari Pilkada DKI ini, terkait dengan pengaturan media oleh negara, sebaiknya hanya dilakukan pada media massa mainstream dan membiarkan dinamika dalam media sosial berjalan dengan sendirinya.

”Pesan negatif yang ada ternyata langsung direspons oleh pesan-pesan positif dari kubu lainnya.
Masyarakat sudah makin dewasa,” ujar Haryanto.

Bandingkan video berikut ini





SUMBER